Menemukannya adalah
sebuah sejarah besar yang tentu tertuliskan dalam catatan terpenting dalam
hidup. Di awal pertemuan, sebetulnya kita berada dalam trauma yang sama.
Bagaimana hati ini berlabuh di tempat yang salah, tapi pada akhirnya kita harus
ikhlas perihal itu, yang merupakan garis takdir. Lalu bagaimana kita hari ini
saling memantaskan diri, saling menguatkan, mengatur tensi ego dan
banyak-banyak bersyukur. Tentu kita sama-sama tau dan mengerti, tidak mudah
untuk membalut bekas luka yang cukup parah, pasti terasa sakit dan pedih namun
itu adalah pilihan satu-satunya untuk sembuh. Ya, saat ini kita menuju sembuh.
Lalu bagaimana kita bersikap
selayaknya orang sakit yang ingin mendapatkan kesembuhan? Mungkin banyak
beristirahat dari masalalu yang menjadi elegi luar biasa, mengobati diri dengan
yang ada saat ini. Karena kita tau takdir demikian, jika mau mengakui dan
legowo, kita dipertemukan di waktu yang sangat tepat. Tuhan begitu tau isi hati
kita, apa kemauan kita dan apa yang kita butuhkan saat ini. Ya, hati yang masih
rentan. Dan perlu diakui pula bahwa itu bukan hal mudah. Aku sangat merasakan
itu dan tau betul bagaimana rasanya.
Untuk saat ini,
Jungjunan. Kita harus banyak menanam euforia dan menebang elegi sebelum menjadi
rimba dan kita terjebak di belantara. Tak tau jalan pulang. Mungkin sangat
sulit? Ya, tapi kita harus bisa dan kuat. Lalu untuk apa semua itu? Pertama,
jelas untuk kesembuhan kita berdua, selanjutnya apa yang kita tanam mungkin
hasilnya anak cucu kita yang akan memanennya. Mari kita bayangkan, anak cucu
kita memanen cinta. Itu bukan pemandangan yang murah.
Dan aku. Yang masih
goblok ini. Dari relung hati paling dalam dan dasar kejujuran yang tak bisa tersentuh
siapapun, dalam setiap waktu aku sungguh giat meminta maaf dan ampunan pada
Tuhan, agar bagaimana aku bisa lebih baik untukmu, Jungjunan. Dalam sisa hidupku,
sungguh dirimu adalah kanyaah yang sejati. Semoga kamu dan aku kuat dan bahagia
selalu. Aamiin.
Yang fana adalah waktu.
Kita abadi:
Memungut detik demi
detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi,
yang fana adalah waktu,
bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
(Sapardi Djoko Damono)

0 Komentar