MENULIS adalah hal yang paling malas saya kerjakan saat duduk di bangku sekolah. Jujur saja, dari satu buku selama satu semester, mungkin yang terisi hanya beberapa halaman saja. Menulis itu menjengkelkan, melelahkan jari dan selalu berujung tentang nilai yang tak pernah memuaskan. Saya lebih senang tugas lisan daripada tulisan. Persentasi di depan misalnya, kerja kelompok, bahkan lebih senang lagi jika belajar di luar ruangan. Merdeka belajar itu sungguh terasa nyata. Namun sejatinya saya harus menyadari hal itu adalah persoalan dinamika. Duduk di bangku SMA mulai membuat saya agak jatuh cinta dengan menulis, tapi dalam bentuk lain. Fiksi salahsatunya. Pokoknya, tulisan-tulisan yang datang sebagai tugas dari guru saya masih malas untuk mengerjakannya. Artinya ini inisiatif pribadi saja.
Memang jauh dari sebelumnya, jika berbicara tentang fiksi. Sejak kecil terbiasa dengan dongeng-dongeng, seperti cerita rakyat, legenda, fabel, terutama pada dongeng jenaka saya sangat menyukainya. Secara tidak langsung, dari dongeng-dongeng itu pintu kesusastraan saya terbuka dan akhirnya jatuh hati pada puisi. Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor adalah penyair idola saya. Seiring berjalannya waktu saya mesti bertemu dengan sosok guru. Akhirnya, alam mempertemukan dengan sosok Amang S Hidayat. Namanya sudah tersohor sebagai seniman yang sangat produktif. Dengan Teater Bolon yang beliau dirikan pada dua puluh lima tahun yang lalu. Saya belajar banyak ilmu teater, sastra dan berorganisasi dari beliau.
Bukan merasa sudah bisa atau layak, tapi pada akhirnya kita juga perlu sebuah monumen yang menjadi sebuah tanda, terlepas dari masalah sebuah pengakuan publik. Maka dari hasil itikurih selama bertahun-tahun itu, sebagian karya tulis yang sudah rampung saya dokumentasikan dalam bentuk antologi. Dua antologi tunggal dan satu antologi bersama, sisanya banyak dimuat di media massa.
Antologi puisi pertama berjudul Setia Ialah Farhatun yang terbit pada tahun 2020, saat Covid-19 menjadi beban setiap manusia. Diterbitkan di Penerbit Langgam Pustaka.
Disusul oleh antologi bersama berjudul Dari Kisah Odysseus Tidak Ada Perahu Nuh. Dalam buku itu ada 31 Penyair se-Indonesia, diterbitkan oleh Penerbit Hyang Pustaka.
Dan puji syukur, alhamdulillah, pada Juli 2022, telah rampung antologi tunggal yang kedua berjudul Sabrina Nama Terpenggal. Dengan ilustrasi cover oleh seniman rupa dari tatar Galuh (Ciamis) Kang Kidung Purnama dan pengantar oleh salahsatu pengurus Yayasan Hari Puisi Indonesia (YPI) sekaligus Penyair Nasional Mas Nana Sastrawan, buku ini masih diterbitkan oleh Penerbit Hyang Pustaka.
Saya pernah mendengar suatu ujaran yang berisi "Sebuah karya yang baik adalah karya yang tetap hidup sekalipun pembuatnya sudah tiada". Maka sebelum kepergian itu saya akan selalu berusaha untuk membuat karya yang terbaik. Silahkan jika Tuan dan Puan berminat untuk membeli buku-buku puisi saya ini bisa menghubungi penerbitnya langsung atau melalui Whatsapp admin saya (tertera di rubrik wawanohan). Salam.
0 Komentar