SEDERHANA; SELESAI DENGAN GAYA


Saat terasa lapar di malam larut, saya selalu makan di warung sederhana ini di Pasar Rel, Cihideung, Kota Tasikmalaya. Entah mengapa, selera makan saya memang di tempat-tempat seperti ini. Dengan lauk-pauk sederhana, telor dadar, orek tempe, gorengan, ditambah sambal hijau yang khas. Luar biasa nikmat. Sekali makan hanya menghabiskan sepuluh ribu saja. 

Bukan tidak mampu makan di restoran yang bagus bahkan berkelas dengan makanan-makanan mahal, tapi lidah saya sangat jujur lebih menyukai pasakan seperti ini. Sekali pun makan makanan mewah, hanya saat menghadiri acara di hotel-hotel. Itu pun saya harus makan dengan hati yang agak terpaksa karena urusan selera.

Entah siapa nama pemilik warung nasi ini, yang jelas saya memanggilnya dengan sebutan Abah. Orangnya sangat baik, humoris juga santai. Setelah selesai makan saya tidak langsung pulang, kerap kali berdiam dahulu, menikmati suasana malam yang memiliki energi tersendiri. Suara radio tua, klakson kendaraan sesekali, aliran air kali di sebrang jalan.

Abah selalu bercerita tentang pengalaman terbarunya saat berdagang. Ada yang minta sambal berlebihan namun tidak dimakan, beli nasi dibayar dengan handphone mati, sampai sederet kejadian di pasar. Saya sangat menikmati cerita-ceritanya. Serius, anekdot, bermakna. 

Sesuatu yang melintas di benak saya adalah nilai kesederhanaan hidup. Perihal takdir tidak ada yang tau, bisa jadi saya menjadi seorang Abah pemilik warung nasi di sebuah pasar kecil, suatu saat nanti atau menjadi pengusaha yang sukses dengan banyak karyawan. Tidak ada yang tau. Namun nasib bisa diubah. Saat berdiam di sana, sejenak saya bisa menurunkan tensi ego hidup, kalau pun suatu saat nanti saya menjadi orang sukses rasanya sederhana dalam hidup adalah sebuah pilihan.

Saya menyaksikan betul para pedagang pasar yang bersiap-siap di sepertiga malam, kuli angkut yang lembur, supir yang beristirahat makan malam. Baju mereka bau keringat, kotor, mungkin anak istrinya sedang lelap tertidur di rumah. Seringkali saya membayangkan suatu saat berada di posisi itu. Sesungguhnya bahan tafakur yang panjang.

Maka dalam hal apapun saya sedang mencoba menanamkan sifat sederhana. Pada apa pun dan siapa pun. Apa adanya. Karena pada akhirnya saya tidak bisa munafik pada diri sendiri, bagi saya, kepuasan batin adalah hal penting. Pun dalam menyayangi seseorang, saya sedang berusaha untuk apa adanya dan tetap mati-matian memberikan yang terbaik karena saya tau rasanya kecewa, menyesal, dan sakit hati. Itu sangat tidak enak. 

Terima kasih Abah, telah memberikan saya sebuah tamparan, bahwa hidup adalah perihal apa adanya, sederhana. Kunci kesenangan adalah menjadi diri sendiri.

Video di bawah diambil pada Selasa, 18 Oktober 2022 sekitar pukul dua dini hari.


 

Posting Komentar

0 Komentar