Apa kau melihat darah yang mulai mengering di belakangku
Sepanjang jalan aku menuju kantung matamu
Mulutku kering tanpa kata atau apa pun yang membuat luka hatimu
Sadarkah kau aku membatu tanpa laku ini-itu, tak ingin kecewamu menjadi lantaran ulahku
Tahukah kau, jiwa raga kugadaikan pada matahari dan malam berbintang
Teruntuk matamu yang dulu sering basah oleh air mata
Saat ini ingin kugantikan dengan keindahan saban kedipan
Sebelum sampai pada haribaan akhir, di sini aku katakan sepenuhnya hidup ini untukmu
Namun kau tahu aku pun rapuh
Rentan dengan euforia yang memihak
Tamparlah mukaku jika air mata ini jatuh
Agar kau membayangkan betapa sakitnya aku
2022

0 Komentar