KRITIK DAN SECANGKIR HUMANISME


Ada yang masih tersisa. Dengan kapasitas yang saya punya, saya selalu berusaha mengambil andil dalam urusan sosial Kota Tasikmalaya. Terhitung sejak kepemimpinan Wali Kota Drs. H. Budi Budiman dan Drs. H. Muhammad Yusuf, mulai intens mengamati dan diskusi sana-sini perihal permasalahan kota. Setumpuk persoalan selalu ada di meja tulis saya, maka tak jarang saya beropini. Terlepas dari keakraban saya dengan beliau, sama sekali tak segan untuk mengkritisi. 

Bukan hanya di media online, dalam setiap kesempatan bertemu saya selalu sampaikan secara langsung. Yang pertama jelas perihal seni budaya, bidang saya sendiri, juga kerap kali ada kawan-kawan pegiat seni yang menitipkan aspirasinya. Lalu persoalan lingkungan dan tata kota, yang juga selalu hangat di perbincangan masyarakat. 

Dalam perjalanan karir politiknya, Budi Budiman harus berurusan dengan KPK saat itu dan berujung hukuman, secara otomatis Muhammad Yusuf menggantikan posisinya sebagai Wali Kota Tasikmalaya di sisa waktu jabatannya. Pergi dengan meninggalkan sejumlah persoalan yang belum tuntas, mau tidak mau Muhammad Yusuf harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Pun di masa pemerintahannya, saya sering sekali mengkritik berbagai kebijakannya. 

Tugasnya telah usai, entah di pemilihan berikutnya beliau akan mencoba keberuntungannya kembali atau tidak, yang jelas semangat beliau masih tinggi untuk membuat Kota Tasikmalaya lebih baik. Perihal siap atau tidaknya beliau mengambil amanah kembali, kita lihat saja nanti. Momen ini pada bulan Desember kemarin saat para perupa Tasikmalaya Raya melukis di semi pedestrian HZ Mustofa. Salam sehat selalu buat Kang Yusuf dan Hajah Rukmini.


Posting Komentar

0 Komentar