MENULISKANMU, LAGI


Aku atau pun dirimu tak pernah tau hal apa yang akan mengisi perjalanan kita di kemudian hari. Namun kita patut mempersiapkan segala sesuatunya dan menyatakan siap untuk menjalaninya. Di waktu yang sudah kurasa cukup untuk mengenalmu dari sisi egois dan rasa ingin selalu dimengerti itu, kini saatnya aku bergegas untuk mengenalmu lebih jauh lagi. Dan di titik ini, tidak ada yang bisa kutolak darimu, semuanya telah kuterima dan masuk ke kantung ikhlasku.

Sampai saat ini aku tak tau sejauh mana kau mengenaliku, yang jelas itu tugasmu, harus diselesaikan dengan baik dan harus berujung pada keikhlasan. Kau tau bentuk ikhlasku padamu? Coba kau ingat hari-hari saat kita berdua. Semua ikhlasku itu akan tergambar di sana. Banyak hal-hal yang mengajariku sebuah arti. Membujukmu untuk tersenyum lagi, menerima semua keputusan yang datang darimu, merelakan hilangnya berbagai pertanyaan harian yang dulu sering kau lontarkan, yang kuanggap itu sebuah bentuk perhatian, dan membuka pintu maafmu yang terkadang sangat sulit. Semua itu membuatku selalu berfikir, bagaimana aku menyikapinya dengan bijak.

Namun semua itu jelas dinamika perjalanan yang sangat kusadari. Tak akan berwarna jika perjalanan kita ini selalu di titik bahagia, maka Tuhan itu maha asik, sesekali membuat basah pipi kita dengan air mata. Patut kita syukuri itu. Dan nanti, jika puisi sudah tak bercerita masa muda kita lagi, jika suara sudah tak mampu berorasi lagi, izinkan aku menulis detik-detik tua yang berharga, yang sudah lepas dari urusan egosentris, rasa gengsi, dan hedonisme. Semua hanya tentang aku dan kamu yang sebenarnya, bersih dan penuh dengan keikhlasan. Semangat tahun ini harus meningkat, ada harapan kita berdua yang sudah nangkring.

Posting Komentar

0 Komentar