Sedari kecil saya dan bapak terbiasa berdialog menggunakan bahasa Indonesia. Dulu sempat canggung dan agak heran, kenapa mesti harus bahasa Indonesia padahal saya hidup dalam lingkungan kampung yang didominasi masyarakat Sunda, tentu dalam keseharian menggunakan bahasa Sunda. Di usia dini itu, mulai berkenalan dengan studio kedap suara, orang akting di depan kamera, lembaran naskah drama, dan orang-orang yang penampilannya nyeleneh. Belum banyak tau tentang semua itu tapi waktu berpihak pada rindu, kami dipisahkan jarak.
Dari sana perjalanan dimulai. Ada apa dengan orang-orang yang berteriak sesuka hati di atas panggung? Ada apa dengan selembar kertas yang membuat orang-orang beradu mulut? Ada apa dengan orang-orang bergincu tebal dan alis yang tak horizontal? Kenapa orang di studio itu tertawa sendiri di depan mic? Berbicara dengan siapa dia yang berdiri di depan kamera? Nampaknya untuk menjawab pertanyaan itu tidak mudah apalagi harus mencobanya satu persatu. Itu sungguh sebuah waktu. Tapi waktu pula yang seolah menghantarkanku ke pintu jawaban semua itu. Bapak tidak mengantarkan tapi bapak yang mengenalkan.
Oh itu orator, oh yang ini teater, yang sana presenter, yang bawel penyiar, yang nyeleneh itu ternyata seniman. Asik, sangat asik, ternyata aku menemukan kehidupan di sini. Tanpa sedikitpun keraguan dan kekhawatiran akan bagaimana urusan nasib saya, segera bergegas mendalami itu.
Bapak itu orangnya tegas. Dulu, setiap kali ia datang buat ngasih uang bulanan selalu saja ada yang menjadi bahan luapan marahnya dan nenek yang mengumpulkan bahan-bahan itu untuk kemudian diadukan padanya tapi ujungnya nenek juga yang menjadi pelebur rasa bersalah saya.
"Nak, hidup ini adalah sandiwara. Dalam setiap sandiwara apapun lakonnya kamu harus ambil peran, peran itu macam-macam di antaranya si baik dan si buruk. Kamu harus pilih itu dan tentu kemenangan akhir cerita akan berpihak pada si baik walaupun terkadang dia harus jatuh, sakit, luka di awal cerita." ujar bapak dalam sekali waktu.
Saya orang yang pelit suara dan kata hanya dengan mengangguk tanda faham dan setuju dengan apa yang bapak sampaikan. Sekali waktu saat saya dibawa liburan akhir pekan ke pasar malam saya dibonceng di depan.
"Pak, kalau aktor itu kehidupan di belakang panggungnya seperti apa?"
"Dia tetap berakting, karena dia selalu menyadari bahwa setiap detak waktu adalah panggung yang tak boleh kosong dari adegan." suaranya sedikit kabur oleh hembusan angin dan kaca helm.
Pasar malam itu pun telah usai bertahun-tahun lalu, saya dan bapak semakin jarang bertemu untuk sekedar melebur rindu atau bahkan beli es cream dan martabak kacang di Simpang Lima itu. Kami hanya berusaha untuk saling berkabar lewat telpon atau facebook. Sampai sekali waktu pertanyaan-pertanyaan dulu kian menjirim jawaban. Setelah sekian tahun menjalani hari-hari dengan tempaan proses yang amat melelahkan saatnya memetik hasil dengan panggung pertama. Panggung yang telah sekian kali hadir menjadi bunga tidur dan sari lamunan.
"Pak, pak, saya mau manggung besok, ini lagi persiapan di lokasi. Bapak harus nonton ya," tulis pada pesan.
"Oh ya? Bapak ke situ sekarang." jawabnya.
Dengan senang hati saya menunggu kedatangan bapak, dalam hati sudah menduga bahwa pasti malam ini saya mendapat pujian. Setelah penantian beberapa jam benar saja bapak datang.
"Mana? Apa yang sudah kamu anggap layak untuk orang saksikan besok?"
"Oh ya, ini teman-teman saya, kami sudah banyak berlatih dan siap tampil."
"Begitu ya? Bagaimana pun kualitas penampilanmu besok, yang jelas tidak akan bapak anggap bagus dan bapak tidak akan puas. Berlatihlah sampai umurmu lebih tua dari umur bapak saat ini." lalu ia pergi tanpa adanya pujian atau meninggalkan kalimat penyemangat.
Apakah bapak tidak suka anaknya ditonton ratusan orang, meraih prestasi, dan terangkat derajat hidupnya dari talenta yang dimilikinya? Ah dasar bapak, makin ke sini, makin sulit dimengerti. Waktu terus berlari, saya tak ingin tertinggal walau sedepa. Proses berlanjut bahkan sampai hari ini. Sampai sekali waktu bapak memanggil saya dan memberikan pujian yang sudah lama saya tunggu-tunggu itu.
"Kamu sudah menjadi benih tapi belum menjadi pohon, teruslah berfikir dan bergerak agar tubuh itu terus hidup dan tumbuh." ujarnya.
Bapak yang kian sepuh dan harus bertarung dengan penyakit yang dideritanya. Sampai Tuhan memanggilnya pulang pada hari Senin lalu, ya, Syawal ini menjadi akhir perjalanan bapak. Bapak yang lebih kukenal aktif dalam seni pertunjukan (teater), juga orang lain demikian, membuat banyak kawan dan anak-anak didiknya merasa kehilangan.
Sesaat setelah menyolatkan jenazah bapak, saya duduk di samping seorang kawannya yang sedang mengobrol, menceritakan bapak.
"Beliau itu memang begitu, tentang hidup, selalu memilih jalan sederhana dengan mengatakan bahwa apa yang kita jalani saat ini tidak lebih dari sekedar sandiwara yang pada suatu saat akan menemukan sebuah akhir cerita. Beliau menganggap selama ini kita sedang manggung. Manggung sandiwara." katanya.
Pak, lekasan sudah. Kini bapak bergegas ke panggung selanjutnya. Panggung yang punya artistik baru, warna cahaya baru, dan naskah baru. Panggung sesungguhnya yang tentu saya dan yang lainnya suatu hari juga berakhir di sana. Terima kasih sudah menjadi bapak sekaligus guru hidup yang selalu mengajarkan tentang kedisiplinan, konsistensi berproses, dan arti cinta. Selamat menikmati panggung selanjutnya, aku mencintaimu. ***
MIANG
Pa, aya manuk ricit na tangkal hanjuang
Angin isuk ngusap lambaran gudawang
Réma tresna masih karasa gumeterna
Pa, istuning ieu juntrungna papastén
Apan salira teu weléh saged nyaksi bukti
Tina saban ayat-ayat anjeun-Na
Bral Pa, jalan ka gedong molongpong
Muru alam nu teu kaselang-selang
Pa, sing kebat taya pangalang!
Cipasung, 2023


0 Komentar