Perempuan prosa. Aku selalu mengapresiasi segala capaian diri, lepas kecil atau besarnya tetapi apresiasi itu merupakan bagian dari pembangunan mental dan ketahanan angan yang di kemudian hari harus terwujud menjadi kenyataan. Dari sekian banyak perempuan yang melintas dalam hidup, yang terang setelah ibu, hanya ada beberapa yang kusukai, beberapa yang kucintai, dan satu orang saja yang kuanggap berharga, yang terang setelah ibu. Setidaknya untuk fase saat ini.
Teruntuk kamu perempuan prosa yang sampai hari ini kisahmu terus berlangsung, aku selalu membacamu dari kejauhan, dengan alakadarnya saja. Bukan tanpa sebab, akses untuk bisa bergegas mendekatimu itu cukup rumit. Dan tentu juga dalam diriku masih banyak terpasang pagar-pagar segan, ragu, rasa tidak mungkin, dan sederet alasan pesimisme yang agaknya tak perlu diungkapkan. Namun rasanya dari kejauhan pun cukup. Kalau lirik lagu Komang berbunyi "Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata" maka bagiku kamu terlalu mahal untuk sekedar diajak kencan satu malam saja.
Yang terang aku tak mau shuuzdon dulu dengan rasa yang timbul sudah agak lama ini, kuanggap ini bukan perangkap atau semacam penjara harapan semu. Artinya aku juga punya optimisme, walau belum besar. Ya lebih tepatnya agak sulit pula untuk membesarkannya, tapi kan ini persoalan waktu, bisa saja lebih besar atau malah bias, belum tau juga. Perempuan prosa, kuanggap kamu demikian, sebab hidupmu yang berdinamika itu alurnya jelas, maka aku tetap mengikuti di belakangmu. Dari kejauhan saja.
Kalau dulu, aku punya satu nama di kantung hati yang sangat dijaga dan dirawat keberadaannya, lalu tetiba saja dia kabur oleh waktu. Kini aku punya kamu walau tidak di kantung itu, setidaknya masih bisa kujaga dari kejauhan. Sebab nyatanya tak semua ekspetasi bisa menjadi kenyataan, bukan tidak mungkin melainkan terhambat persoalan waktu, keadaan, dan macam-macam alasan lain. Apa yang tidak mungkin di dunia fana ini? Dalam konteks dirimu pula, apa yang tidak mungkin? Suatu saat nanti mimpi itu bisa menjadi hari nyata yang aku dan kau jalani. Itulah kuasa Tuhan.
Perempuan prosa, kalau pun memang kau hanya sampai dalam catatan ini saja, izinkan aku menyimpan catatan ini baik-baik seperti halnya aku mengurus rasa yang baik ini pula. Dan seperti aku membayangkan hal-hal baik di kemudian hari tentangmu. Aku tak tau kamu milik siapa, tapi, suka atau benci kau padaku, pertanda aku ada dalam hidupmu.

0 Komentar